Terhitung
sejak tanggal 1 April 2018, seluruh pelajar (Putra-Putri Bangsa) Indonesia yang
berada di Tiongkok telah digemparkan oleh pemberitaan di salah satu media massa
yang memuat berita dengan judul “Di Cina, Pelajar
Indonesia Dapat Pelajaran Ideologi Komunis”[1].
Judul pemberitaan tersebut telah berhasil membuat resah para pelajar Indonesia
di China yang diketahui melalui aktif-nya beberapa grup media sosial yang
dimiliki oleh pelajar Indonesia di Tiongkok.
Spekulasi-pun
tumbuh seiring dengan munculnya pemberitaan tersebut, namun satu hal yang
membuat kami bangga (terkhusus saya pribadi) sebagai pelajar Indonesia di
negeri orang adalah sikap untuk tidak saling menyalahkan bahkan lebih mengarah
kepada mencari kebenaran atas pemberitaan yang muncul.
Satu
sikap yang patut mendapatkan apresiasi besar dari semua pihak bahwa di sinilah,
di negara orang (di negara Tiongkok), ternyata putra-putri Bangsa Indonesia
dari generasi muda mampu menjaga persatuan dan kesatuan yang selama ini telah
terbangun dengan kokoh. Sikap yang menunjukkan persatuan tersebut membuahkan
hasil berupa tanggapan organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok terhadap
pemberitaan “kurang sedap” yang telah dimuat di media massa yang sama dengan
yang memberitakan sebelumnya[2]. Sebelumnya,
sanggahan dan sikap keberatan juga telah dilakukan oleh salah satu cabang Ormas
Islam Indonesia yakni Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok
yang telah dimuat pada media massa yang sama sehari sebelumnya yakni pada
tanggal 3 Maret 2018[3].
Berbicara lebih jauh mengenai perwujudan rasa persatuan dan
kesatuan yang terbangun di kalangan pemuda/pemudi Indonesia di negeri Tiongkok serta
berpegang teguh pada ajaran Islam telah mampu menghilangkan potensi konflik
horizontal yang (mungkin saja) hendak diciptakan oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab. Andai saja rasa persatuan dan kesatuan ini tidak atau bahkan
belum sempat terbangun, maka yang akan terjadi adalah satu pihak akan
menyalahkan pihak lainnya dan konflik horizontal pun akan terjadi. Namun di
sinilah kami para pelajar Indonesia mampu memaknai perbedaan sebagai kekuatan
dan bukan sebagai kelemahan. Walaupun dengan perbedaan pada latar belakang
organisasi, suku, agama, warna kulit, jenjang pendidikan ataupun perbedaan lainnya,
namun telah tercermin sikap elegan untuk menjunjung semangat persatuan dimana
semangat persatuan ini tidak akan pernah muncul tanpa kesadaran akan arti
ke-Bhineka-an dan besarnya ghirah
untuk tetap menjalin tali ukhuwah.
Belajar memang merupakan kewajiban bagi setiap pelajar, akan
tetapi memaknai kata “belajar” tidak dapat hanya sebatas pada kegiatan mempelajari
literatur perkuliahan semata, karena di dalam kehidupan ini, kami (generasi
muda) juga masih harus banyak belajar mengenai kehidupan yang salah satunya
adalah bagaimana untuk tetap menjaga tali persaudaraan dan persatuan di negara
orang. Dalam hal ini, PPIT memiliki
peran sebagai pemersatu untuk tetap menjalankan tali ukhuwah yang terbukti dari berbagai kegiatan yang telah dilakukan.
Salah satu kegiatan yang dapat saya sampaikan pada tulisan ini
adalah kegiatan culture festival yang
diselenggarakan secara periodik oleh kampus-kampus di Tiongkok. PPIT terkhusus
cabang Wuhan akan berpartisipasi aktif dengan menampilkan tarian yang berasal
dari Provinsi Aceh yaitu Tari Saman.
Keputusan untuk memilih tari saman sebagai bagian dari
pertunjukan yang akan ditampilkan oleh PPIT Cabang Wuhan tidak dapat dipisahkan
dari filosofi yang terkandung di dalamnya tentang persatuan[4].
Perpaduan dan harmonisasi gerakan-gerakannya mampu menghasilkan decak kagum bagi
para penontonnya sebagaimana para pelajar dari negara lain menunjukkan
kekaguman mereka kepada pelajar Indonesia akan keragaman yang kita miliki namun
tetap terbingkai dalam kerangka ke-Bhineka-an.
Di saat culture festival
diselenggarakan, akan tampak wajah-wajah yang berasal dari berbagai suku di
Indonesia namun mereka mampu memperlihatkan bagaimana semangat persatuan dan
kekompakan terjalin sehingga tersiratkan kesinambungan dan harmonika akan
persatuan pemuda/pemudi Indonesia di negeri Tiongkok. Cerminan persatuan ini
juga tampak dari para anggota tari saman yang tidak seluruhnya berasal dari
Aceh. Bahkan banyak dari mereka yang (sebelumnya) tidak mengetahui dan
memahami bagaimana tari saman dilakukan. Namun realita akan persatuan telah
berbicara sehingga kekompakan pun terjadi di dalam latihan dan pada saat pertunjukan berlangsung.
Masih banyak pula kegiatan lainnya yang dilakukan oleh
pemuda/pemudi pelajar Indonesia di negeri Tiongkok dalam rangka menjaga tali
persaudaraan dan kesatuan bangsa, serta tanpa adanya rasa malu atau sungkan
untuk menunjukkan wujud ke-Bhineka-an yang terbungkus dalam kesatuan (Ika) di hadapan
pelajar dari negara lain sebagaimana yang tertulis dalam Lambang Garuda Negara Indonesia,
“Bhineka Tunggal Ika”.
Wuhan, 05 April 2018
*penulis (Nugroho Suryo B.)
Mahasiswa PhD Huazhong University of Science and Technology
(HUST) dan Ketua International Scholar Research Collaboration (ISRC).
[1] diterbitkan pula di https://www.kabarmutiongkok.org/berita/semangat-persatuan-yang-tak-akan-pudar-dari-pelajar-indonesia-di-tiongkok
[1] diterbitkan pula di https://www.kabarmutiongkok.org/berita/semangat-persatuan-yang-tak-akan-pudar-dari-pelajar-indonesia-di-tiongkok
[1] http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/04/02/p6h8j0396-di-cina-pelajar-indonesia-dapat-pelajaran-ideologi-komunis.
Diakses 3 Maret 2018 pukul 15:40 waktu Kota Wuhan, Provinsi Hubei, P.R.China
(Tiongkok).
[2] http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/04/02/p6islz428-pengurus-nu-tak-ada-ajaran-komunisme-di-cina.
Diakses 3 Maret 2018 pukul 15:53 waktu Kota Wuhan, Provinsi Hubei, P.R. China (Tiongkok).
[3] http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/04/02/p6islz428-pengurus-nu-tak-ada-ajaran-komunisme-di-cina. Diakses 3 Maret 2018
pukul 16:02
waktu Kota Wuhan, Provinsi Hubei, P.R. China (Tiongkok).
[4] http://lpsn.org/node/252, diakses 5 April 2018.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar