Minggu, 08 November 2015

Antara Masyarakat yang Pandai atau Pemerintahan yang Kuat

Sebuah pertanyaan dapat saja muncul sangat sederhana ketika membahas permasalahan negara seperti: manakah yang lebih di butuhkan? Masyarakat yang pandai atau Pemerintahan yang kuat? Tentu hal ini terkait dengan pembangunan sebuah negara dan dibahas dalam sudut pandang yang sempit. Sudut pandang yang sempit tidak berarti diterjemahkan sebagai sudut pandang yang mengedepankan egois, akan tetapi lebih mengarah kepada sudut pandang yang memiliki banyak batasan dalam melihatnya (perspektif).
Pertanyaan ini berangkat dari pengalaman ketika berada dan hidup secara langsung di lingkungan China dengan obyek di Kota Wuhan. Sekiranya ini dapat mewakili karena posisi Kota Wuhan adalah kota besar disamping memang sebagai Ibu Kota Provinsi Hubei, China.  Diskusi ringan ini akan berawal dari kondisi China untuk kemudian melihat fenomena lebih dalam dengan membandingkan kondisi di Indonesia. Tujuan yang diinginkan bukanlah perdebatan namun lebih kepada penyebaran informasi mengenai kondisi dua daerah yaitu Indonesia dan China walaupun hal ini dipahami tidak dapat di generalisir.
Kondisi di China dengan segala kemegahan yang ada telah membuktikan pada dunia bahwa saat ini memang China layak berada pada posisi perekonomian no.2 di dunia. Infrastruktur yang memadai, hukum yang ditegakkan, iklim bisnis yang tercipta dengan baik dan lain sebagainya. Bukan berarti semua itu tanpa kekurangan, tentu saja kita semua sepakat bahwa tidak ada yang sempurna 100% di dunia ini. Akan tetapi, apa yang China bangun sejak jaman reformasi yaitu sejak jaman Mao Tze Dong, tampak dalam kurun waktu 70 tahun ini yakni tahun 2015. Hal yang perlu diperhatikan adalah, dapat dikatakan bahwa “China merdeka dari dirinya sendiri”.
Mengapa dapat dikatakan demikian? Bisa kita lihat lebih dalam bahwa perang saudara atau perang antar etnics di china telah terjadi sejak lama dan sejak rezim reformasi berjalan, China mulai membangun semuanya atas kesadaran membangun bangsa. Bisa dilihat bagaimana Indonesia lebih dahulu memiliki perusahaan galangan kapal atau industry yang membuat kapal, jalan tol dan lain sebagainya. Kita mengetahui bahwa Indonesia memiliki hal tersebut lebih dahulu ketimbang China.
Keterbukaan informasi pun menjadi salah satu hal yang turut membangun suatu bangsa, namun bukan keterbukaan yang tanpa aturan serta bukanlah keterbukaan yang bersifat demolish atau destructive. Selian itu, juga diketahui bahwa dengan populasi yang mencapai 1.2 miliar tentu akan menghabiskan banyak biaya untuk hal-hal yang bersifat social, kesehatan dan pendidikan. Dapat dibayangkan apabila China menerapkan wajib belajar 12 tahun sebagaimana Indonesia, tentu saja hal ini menghabiskan biaya yang sangat besar terlebih posisi China yang berada di daerah sub-tropis dengan 4 iklim-nya menjadikan biaya social dan kesehatan jauh lebih besar dari pada Indonesia. Namun mengapa dalam kurun waktu 70 tahun, China dapat membangun bangsa ini secara apik? Itu merupakan pertanyaan besar yang selama ini bergumam di kepala saya. Apakah China di bangun oleh orang-orang yang pintar semuanya? Di satu sisi, tentu saja, namun bagiamanakah dengan factor lainnya?
Di sisi lain, Indonesia adalah negara yang merdeka dari penjajahan Asing yakni Belanda selama 350 tahun lamanya. Bukan berarti Indonesia tidak belajar dari apa yang dilakukan oleh penjajah yakni Inggris, Belanda, Jepang dan Portugis. Kemerdekaan yang direbut dari bangsa asing pasti membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Akan tetapi, bagaimana dengan negara yang merdeka dari dirinya sendiri? Apakah itu juga hal yang mudah?
Setelah memasuki usia kemerdekaan yang sama yakni 70 tahun, terbukti bahwa kedua negara memiliki peran besar sebagai emerging market di 2015. Namun tentu saja terdapat perbedaan yakni China lebih dipandang dari pada Indonesia, tetapi tidak diterjemahkan secara otomatis bahwa Indonesia dianggap sebelah mata. Mengapa demikian?
Kita lihat bahwa era kepemimpinan manta Presiden B.J. Habibie, diketahui bahwa itulah masa dimana Indonesia mengalami kebangkitan teknologi yang ditakuti oleh banyak negara di dunia. Orang  pintar berasal dari Indonesia banyak diakui oleh dunia saat ini pula. Namun, setelah mereke menyelesaikan tingkat studinya, kemanakah mereka kembali? Ke Indonesia? Mayoritas dari mereka memilih untuk bekerja di luar negeri dengan alasan bahwa di luar negeri, ilmu mereka lebih di hargai dari pada di dalam negeri.
Carut marut politik yang terjadi selama ini menjadikan Indonesia lebih tidak berdaya ketimbang China yang memiliki komitmen lebih terhadap membangun sebuah negara. Apa yang dimiliki oleh Indonesia di awal, tidak dapat ditindaklanjuti lebih dalam dibandingkan langkah “pelan namun pasti” oleh China. Apakah ini dapat dikatakan bahwa China juga belajar dari Indonesia? Silahkan anda berpendapat sendiri, karena hal ini juga terjadi pada Malaysia.
Indonesia memiliki pusat kajian atom yang telah di bangun di tahun 1950-an dan hingga saat ini belum ada realisasi untuk membangun pusat tenaga listrik berasal dari atom. Tentu saja ini akan menjadi perdebatan panjang. Namun  logika saya mengatakan, jika atom berbahaya, bukankah negara-negara sebagaimana Jepang, Amerika, Perancis dan lain-lain tidak akan melanjutkan proyek tersebut?. Mobil nasional sebagaimana yang pernah di era mantan Presiden Soeharto kini tak lagi terdengan suaranya kecuali di bursa mobil seken. Pesawat Gatotkaca N250 pun tak lagi terdengar dengung mesinnya namun kabar  baiknya adalah generasi penerus B.J. Habibie masih mau melanjutkan dan akan merilis pesawat serupa yakni pesawat baling-baling di saat China sudah berani me-launching pesawat jet komersiil. Bukan berarti kita tidak mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh putra bangsa Indonesia, karena secar logika pula, strategi pasar yang dibangun oleh putra B.J.Habibie sangat cerdas yakni membidik pasar yang tidak akan bersaing secara ketat. Itu merupakan langkah awal kemajuan yang harus di apresiasi, namun tidak hanya oleh segelintir ilmuan (tapi seharusnya juga oleh seluruh elemen masyarakat di Indonesia).
TIdak berhenti sampai disini, bahwa sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia bukanlah sumber daya alam yang akan habis dalam kurun waktu 10-20 tahun ke depan. Lebih dari itu, Indonesia punya sesuatu yang lebih di dalamnya. Namun bagaimanakah pengelolaannya? Pertanyaan ini (menurut saya) tidak akan dapat di jawab secara mudah oleh siapapun.
Indonesia memiliki orang pintar dan orang hebat dalam jumlah banyak, akan tetapi dapat dikatakan bahwa China memiliki pemerintahan yang kuat untuk mengontrol seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat. Masyarakat China memiliki pendirian yang kuat untuk membangun bangsa menjadi lebih kuat dan ketekunan dalam hal belajar demi masa depan yang lebih baik dan Indonesia memiliki segelintir orang yang mau bekerja membangun  bangsa namun juga memiliki segerombolan individu dan kelompok yang mencoba dan hidup dari “memancing di air yang keruh”.
Mental seperti ini di kenal dengan istilah “mental tempe” yang kita semua mengetahui makna di balik kata itu. Generasi muda, adalah generasi penerus  bangsa yang kemandirian, kemajuan dan keberhasilan bangsa berada di pundak mereka. Negara manapun akan kebingungan ketika mereka memiliki generasi muda yang tidak berdedikasi (tidak berkualitas) atau memliki generasi muda yang jumlahnya tidak banyak (lihat topik ekonomi demografi).
Negara yang dikuat juga di butuhkan dalam membangun bangsa, yang secara analogi dapat kita katakan bahwa sekuat dan sekokoh apapun kita membangun benteng pertahanan, jika itu dirongrong dari dalam tentu akan runtuh jua. Generasi muda generasi penerus bangsa, pandai menjadi syarat dalam membangun bangsa namun pandai yang oportunis tentu akan meruntuhkan bangsa. Sehingga pandai menjadi tidak cukup dalam membangun bangsa, namun pendirian juga dibutuhkan.
Generasi tua adalah generasi tua yang dalam hitungan tahun mereka akan meninggalkan dunia ini. Dari generasi tua kita akan banyak belajar baik itu hal negative maupun hal positif. Hal negative akan selalu kita ingat sebagai informasi membangun system preventif dan hal positif tentu saja dapat kita lanjutkan untuk mencapai tujuan dari hal positif tersebut.
Masyarakat yang pandai dibutuhkan dengan kondisi optimis dimana masyarakat tersebut memiliki kualitas yang baik serta pemerintahan yang kuat dibutuhkan untuk membangun negara. Jika berangkat dari masyarakat yang pandai namun tidak memiliki kualitas, maka yang terjadi adalah Indonesia saat ini. Mereka keluar untuk mencari wadah tanpa harus berpusing-ria terhadap sepak terjang Indonesia, atau mereka akan memintari orang lain, atau mereka akan lebih memilih hidup tenang dari pada berurusan dengan banyak hal di luar. Sehingga Indonesia dihiasi oleh kata-kata bahwa banyak sumber daya manusia Indonesai yang pandai namun sayang, mereka tidak di Indonesia.
Negara yang bekerja keras dan berkomitmen untuk membangun bangsa, maka akan memunculkan banyak orang pandai di dalamnya. Beginilah kondisi China saat ini. Pendidikan tingkat awal telah mereka gratiskan sejak lama, korupsi diberantas dan sebagainya. Pengembangan ilmu pengetahuan menjadi prioritas, walaupun di awala mereka harus bersusah-ria, namun saat ini mereka telah memetik buah hasil jerih payah yang telah mereka bangun.
Indonesia harus berbenah. Indonesia bukanlah negara di atas kertas yang memiliki angka statistic ini dan itu. Indonesia adalah sekumpulan orang yang lahir dan hidup di dalamnya serta mereka yang menyandang status sebagai warga negara walau berada di luar negeri. Konstribusi sekecil apapun akan sangat bermanfaat buat negara Indonesia.

                                                                                Wuhan, P.R.China 8 November 2015                                                                                                          Hormat saya,
   Putra Indonesia



   Nugroho Suryo Bintoro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Plagiarism Checker

Dunia Akademik semakin memperketat aturan penulisan terutama berkaitan dengan plagiasi karena banyaknya artikel yang terpublikasi. Disatu si...