Rabu, 25 April 2018

Semangat Persatuan yang Tak Akan Pudar dari Pelajar Indonesia di Tiongkok*[1]


Terhitung sejak tanggal 1 April 2018, seluruh pelajar (Putra-Putri Bangsa) Indonesia yang berada di Tiongkok telah digemparkan oleh pemberitaan di salah satu media massa yang memuat berita dengan judul “Di Cina, Pelajar Indonesia Dapat Pelajaran Ideologi Komunis[1]. Judul pemberitaan tersebut telah berhasil membuat resah para pelajar Indonesia di China yang diketahui melalui aktif-nya beberapa grup media sosial yang dimiliki oleh pelajar Indonesia di Tiongkok.
Spekulasi-pun tumbuh seiring dengan munculnya pemberitaan tersebut, namun satu hal yang membuat kami bangga (terkhusus saya pribadi) sebagai pelajar Indonesia di negeri orang adalah sikap untuk tidak saling menyalahkan bahkan lebih mengarah kepada mencari kebenaran atas pemberitaan yang muncul.
Satu sikap yang patut mendapatkan apresiasi besar dari semua pihak bahwa di sinilah, di negara orang (di negara Tiongkok), ternyata putra-putri Bangsa Indonesia dari generasi muda mampu menjaga persatuan dan kesatuan yang selama ini telah terbangun dengan kokoh. Sikap yang menunjukkan persatuan tersebut membuahkan hasil berupa tanggapan organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok terhadap pemberitaan “kurang sedap” yang telah dimuat di media massa yang sama dengan yang memberitakan sebelumnya[2]. Sebelumnya, sanggahan dan sikap keberatan juga telah dilakukan oleh salah satu cabang Ormas Islam Indonesia yakni Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok yang telah dimuat pada media massa yang sama sehari sebelumnya yakni pada tanggal 3 Maret 2018[3].
Berbicara lebih jauh mengenai perwujudan rasa persatuan dan kesatuan yang terbangun di kalangan pemuda/pemudi Indonesia di negeri Tiongkok serta berpegang teguh pada ajaran Islam telah mampu menghilangkan potensi konflik horizontal yang (mungkin saja) hendak diciptakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Andai saja rasa persatuan dan kesatuan ini tidak atau bahkan belum sempat terbangun, maka yang akan terjadi adalah satu pihak akan menyalahkan pihak lainnya dan konflik horizontal pun akan terjadi. Namun di sinilah kami para pelajar Indonesia mampu memaknai perbedaan sebagai kekuatan dan bukan sebagai kelemahan. Walaupun dengan perbedaan pada latar belakang organisasi, suku, agama, warna kulit, jenjang pendidikan ataupun perbedaan lainnya, namun telah tercermin sikap elegan untuk menjunjung semangat persatuan dimana semangat persatuan ini tidak akan pernah muncul tanpa kesadaran akan arti ke-Bhineka-an dan besarnya ghirah untuk tetap menjalin tali ukhuwah. 
Belajar memang merupakan kewajiban bagi setiap pelajar, akan tetapi memaknai kata “belajar” tidak dapat hanya sebatas pada kegiatan mempelajari literatur perkuliahan semata, karena di dalam kehidupan ini, kami (generasi muda) juga masih harus banyak belajar mengenai kehidupan yang salah satunya adalah bagaimana untuk tetap menjaga tali persaudaraan dan persatuan di negara orang.  Dalam hal ini, PPIT memiliki peran sebagai pemersatu untuk tetap menjalankan tali ukhuwah yang terbukti dari berbagai kegiatan yang telah dilakukan.
Salah satu kegiatan yang dapat saya sampaikan pada tulisan ini adalah kegiatan culture festival yang diselenggarakan secara periodik oleh kampus-kampus di Tiongkok. PPIT terkhusus cabang Wuhan akan berpartisipasi aktif dengan menampilkan tarian yang berasal dari Provinsi Aceh yaitu Tari Saman. Keputusan untuk memilih tari saman sebagai bagian dari pertunjukan yang akan ditampilkan oleh PPIT Cabang Wuhan tidak dapat dipisahkan dari filosofi yang terkandung di dalamnya tentang persatuan[4]. Perpaduan dan harmonisasi gerakan-gerakannya mampu menghasilkan decak kagum bagi para penontonnya sebagaimana para pelajar dari negara lain menunjukkan kekaguman mereka kepada pelajar Indonesia akan keragaman yang kita miliki namun tetap terbingkai dalam kerangka ke-Bhineka-an.
Di saat culture festival diselenggarakan, akan tampak wajah-wajah yang berasal dari berbagai suku di Indonesia namun mereka mampu memperlihatkan bagaimana semangat persatuan dan kekompakan terjalin sehingga tersiratkan kesinambungan dan harmonika akan persatuan pemuda/pemudi Indonesia di negeri Tiongkok. Cerminan persatuan ini juga tampak dari para anggota tari saman yang tidak seluruhnya berasal dari Aceh. Bahkan banyak dari mereka yang (sebelumnya) tidak mengetahui dan memahami bagaimana tari saman dilakukan. Namun realita akan persatuan telah berbicara sehingga kekompakan pun terjadi di dalam latihan dan pada saat pertunjukan berlangsung.
Masih banyak pula kegiatan lainnya yang dilakukan oleh pemuda/pemudi pelajar Indonesia di negeri Tiongkok dalam rangka menjaga tali persaudaraan dan kesatuan bangsa, serta tanpa adanya rasa malu atau sungkan untuk menunjukkan wujud ke-Bhineka-an yang terbungkus dalam kesatuan (Ika) di hadapan pelajar dari negara lain sebagaimana yang tertulis dalam Lambang Garuda Negara Indonesia, “Bhineka Tunggal Ika”.

                                                                                               Wuhan, 05 April 2018

*penulis (Nugroho Suryo B.)
Mahasiswa PhD Huazhong University of Science and Technology (HUST) dan Ketua International Scholar Research Collaboration (ISRC).
[1] diterbitkan pula di https://www.kabarmutiongkok.org/berita/semangat-persatuan-yang-tak-akan-pudar-dari-pelajar-indonesia-di-tiongkok




[1] http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/04/02/p6h8j0396-di-cina-pelajar-indonesia-dapat-pelajaran-ideologi-komunis. Diakses 3 Maret 2018 pukul 15:40 waktu Kota Wuhan, Provinsi Hubei, P.R.China (Tiongkok).
[2] http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/04/02/p6islz428-pengurus-nu-tak-ada-ajaran-komunisme-di-cina. Diakses 3 Maret 2018 pukul 15:53 waktu Kota Wuhan, Provinsi Hubei, P.R. China (Tiongkok).
[3] http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/04/02/p6islz428-pengurus-nu-tak-ada-ajaran-komunisme-di-cina. Diakses 3 Maret 2018 pukul 16:02 waktu Kota Wuhan, Provinsi Hubei, P.R. China (Tiongkok).
[4] http://lpsn.org/node/252, diakses 5 April 2018.

Plagiarism Checker

Dunia Akademik semakin memperketat aturan penulisan terutama berkaitan dengan plagiasi karena banyaknya artikel yang terpublikasi. Disatu si...