Sebuah pertanyaan dapat saja muncul sangat
sederhana ketika membahas permasalahan negara seperti: manakah yang lebih di butuhkan?
Masyarakat yang pandai atau Pemerintahan yang kuat? Tentu hal ini
terkait dengan pembangunan sebuah negara dan dibahas dalam sudut pandang yang
sempit. Sudut pandang yang sempit tidak berarti diterjemahkan sebagai sudut
pandang yang mengedepankan egois, akan tetapi lebih mengarah kepada sudut
pandang yang memiliki banyak batasan dalam melihatnya (perspektif).
Pertanyaan ini berangkat dari pengalaman ketika
berada dan hidup secara langsung di lingkungan China dengan obyek di Kota
Wuhan. Sekiranya ini dapat mewakili karena posisi Kota Wuhan adalah kota besar
disamping memang sebagai Ibu Kota Provinsi Hubei, China. Diskusi ringan ini akan berawal dari kondisi
China untuk kemudian melihat fenomena lebih dalam dengan membandingkan kondisi
di Indonesia. Tujuan yang diinginkan bukanlah perdebatan namun lebih kepada
penyebaran informasi mengenai kondisi dua daerah yaitu Indonesia dan China
walaupun hal ini dipahami tidak dapat di generalisir.
Kondisi di China dengan segala kemegahan yang
ada telah membuktikan pada dunia bahwa saat ini memang China layak berada pada
posisi perekonomian no.2 di dunia. Infrastruktur yang memadai, hukum yang
ditegakkan, iklim bisnis yang tercipta dengan baik dan lain sebagainya. Bukan
berarti semua itu tanpa kekurangan, tentu saja kita semua sepakat bahwa tidak
ada yang sempurna 100% di dunia ini. Akan tetapi, apa yang China bangun sejak
jaman reformasi yaitu sejak jaman Mao Tze Dong, tampak dalam kurun waktu 70
tahun ini yakni tahun 2015. Hal yang perlu diperhatikan adalah, dapat dikatakan
bahwa “China merdeka dari dirinya sendiri”.
Mengapa dapat dikatakan demikian? Bisa kita
lihat lebih dalam bahwa perang saudara atau perang antar etnics di china telah
terjadi sejak lama dan sejak rezim reformasi berjalan, China mulai membangun
semuanya atas kesadaran membangun bangsa. Bisa dilihat bagaimana Indonesia
lebih dahulu memiliki perusahaan galangan kapal atau industry yang membuat
kapal, jalan tol dan lain sebagainya. Kita mengetahui bahwa Indonesia memiliki
hal tersebut lebih dahulu ketimbang China.
Keterbukaan informasi pun menjadi salah satu
hal yang turut membangun suatu bangsa, namun bukan keterbukaan yang tanpa
aturan serta bukanlah keterbukaan yang bersifat demolish atau destructive.
Selian itu, juga diketahui bahwa dengan populasi yang mencapai 1.2 miliar tentu
akan menghabiskan banyak biaya untuk hal-hal yang bersifat social, kesehatan
dan pendidikan. Dapat dibayangkan apabila China menerapkan wajib belajar 12
tahun sebagaimana Indonesia, tentu saja hal ini menghabiskan biaya yang sangat
besar terlebih posisi China yang berada di daerah sub-tropis dengan 4 iklim-nya
menjadikan biaya social dan kesehatan jauh lebih besar dari pada Indonesia. Namun
mengapa dalam kurun waktu 70 tahun, China dapat membangun bangsa ini secara
apik? Itu merupakan pertanyaan besar yang selama ini bergumam di kepala saya.
Apakah China di bangun oleh orang-orang yang pintar semuanya? Di satu sisi,
tentu saja, namun bagiamanakah dengan factor lainnya?
Di sisi lain, Indonesia adalah negara yang
merdeka dari penjajahan Asing yakni Belanda selama 350 tahun lamanya. Bukan
berarti Indonesia tidak belajar dari apa yang dilakukan oleh penjajah yakni
Inggris, Belanda, Jepang dan Portugis. Kemerdekaan yang direbut dari bangsa
asing pasti membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Akan tetapi, bagaimana
dengan negara yang merdeka dari dirinya sendiri? Apakah itu juga hal yang
mudah?
Setelah memasuki usia kemerdekaan yang sama
yakni 70 tahun, terbukti bahwa kedua negara memiliki peran besar sebagai emerging market di 2015. Namun tentu
saja terdapat perbedaan yakni China lebih dipandang dari pada Indonesia, tetapi
tidak diterjemahkan secara otomatis bahwa Indonesia dianggap sebelah mata.
Mengapa demikian?
Kita lihat bahwa era kepemimpinan manta
Presiden B.J. Habibie, diketahui bahwa itulah masa dimana Indonesia mengalami
kebangkitan teknologi yang ditakuti oleh banyak negara di dunia. Orang pintar berasal dari Indonesia banyak diakui
oleh dunia saat ini pula. Namun, setelah mereke menyelesaikan tingkat studinya,
kemanakah mereka kembali? Ke Indonesia? Mayoritas dari mereka memilih untuk
bekerja di luar negeri dengan alasan bahwa di luar negeri, ilmu mereka lebih di
hargai dari pada di dalam negeri.
Carut marut politik yang terjadi selama ini
menjadikan Indonesia lebih tidak berdaya ketimbang China yang memiliki komitmen
lebih terhadap membangun sebuah negara. Apa yang dimiliki oleh Indonesia di
awal, tidak dapat ditindaklanjuti lebih dalam dibandingkan langkah “pelan namun
pasti” oleh China. Apakah ini dapat dikatakan bahwa China juga belajar dari Indonesia?
Silahkan anda berpendapat sendiri, karena hal ini juga terjadi pada Malaysia.
Indonesia memiliki pusat kajian atom yang telah
di bangun di tahun 1950-an dan hingga saat ini belum ada realisasi untuk
membangun pusat tenaga listrik berasal dari atom. Tentu saja ini akan menjadi
perdebatan panjang. Namun logika saya
mengatakan, jika atom berbahaya, bukankah negara-negara sebagaimana Jepang,
Amerika, Perancis dan lain-lain tidak akan melanjutkan proyek tersebut?. Mobil
nasional sebagaimana yang pernah di era mantan Presiden Soeharto kini tak lagi
terdengan suaranya kecuali di bursa mobil seken. Pesawat Gatotkaca N250 pun tak
lagi terdengar dengung mesinnya namun kabar
baiknya adalah generasi penerus B.J. Habibie masih mau melanjutkan dan
akan merilis pesawat serupa yakni pesawat baling-baling di saat China sudah
berani me-launching pesawat jet
komersiil. Bukan berarti kita tidak mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh
putra bangsa Indonesia, karena secar logika pula, strategi pasar yang dibangun
oleh putra B.J.Habibie sangat cerdas yakni membidik pasar yang tidak akan
bersaing secara ketat. Itu merupakan langkah awal kemajuan yang harus di
apresiasi, namun tidak hanya oleh segelintir ilmuan (tapi seharusnya juga oleh
seluruh elemen masyarakat di Indonesia).
TIdak berhenti sampai disini, bahwa sumber daya
alam yang dimiliki oleh Indonesia bukanlah sumber daya alam yang akan habis
dalam kurun waktu 10-20 tahun ke depan. Lebih dari itu, Indonesia punya sesuatu
yang lebih di dalamnya. Namun bagaimanakah pengelolaannya? Pertanyaan ini
(menurut saya) tidak akan dapat di jawab secara mudah oleh siapapun.
Indonesia memiliki orang pintar dan orang hebat
dalam jumlah banyak, akan tetapi dapat dikatakan bahwa China memiliki
pemerintahan yang kuat untuk mengontrol seluruh sendi-sendi kehidupan
masyarakat. Masyarakat China memiliki pendirian yang kuat untuk membangun
bangsa menjadi lebih kuat dan ketekunan dalam hal belajar demi masa depan yang
lebih baik dan Indonesia memiliki segelintir orang yang mau bekerja
membangun bangsa namun juga memiliki
segerombolan individu dan kelompok yang mencoba dan hidup dari “memancing di
air yang keruh”.
Mental seperti ini di kenal dengan istilah “mental
tempe” yang kita semua mengetahui makna di balik kata itu. Generasi muda,
adalah generasi penerus bangsa yang
kemandirian, kemajuan dan keberhasilan bangsa berada di pundak mereka. Negara
manapun akan kebingungan ketika mereka memiliki generasi muda yang tidak
berdedikasi (tidak berkualitas) atau memliki generasi muda yang jumlahnya tidak
banyak (lihat topik ekonomi demografi).
Negara yang dikuat juga di butuhkan dalam
membangun bangsa, yang secara analogi dapat kita katakan bahwa sekuat dan
sekokoh apapun kita membangun benteng pertahanan, jika itu dirongrong dari
dalam tentu akan runtuh jua. Generasi muda generasi penerus bangsa, pandai
menjadi syarat dalam membangun bangsa namun pandai yang oportunis tentu akan
meruntuhkan bangsa. Sehingga pandai menjadi tidak cukup dalam membangun bangsa,
namun pendirian juga dibutuhkan.
Generasi tua adalah generasi tua yang dalam
hitungan tahun mereka akan meninggalkan dunia ini. Dari generasi tua kita akan banyak
belajar baik itu hal negative maupun hal positif. Hal negative akan selalu kita
ingat sebagai informasi membangun system preventif dan hal positif tentu saja
dapat kita lanjutkan untuk mencapai tujuan dari hal positif tersebut.
Masyarakat yang pandai dibutuhkan dengan kondisi
optimis dimana masyarakat tersebut memiliki kualitas yang baik serta
pemerintahan yang kuat dibutuhkan untuk membangun negara. Jika berangkat dari
masyarakat yang pandai namun tidak memiliki kualitas, maka yang terjadi adalah Indonesia
saat ini. Mereka keluar untuk mencari wadah tanpa harus berpusing-ria terhadap
sepak terjang Indonesia, atau mereka akan memintari orang lain, atau mereka
akan lebih memilih hidup tenang dari pada berurusan dengan banyak hal di luar.
Sehingga Indonesia dihiasi oleh kata-kata bahwa banyak sumber daya manusia Indonesai
yang pandai namun sayang, mereka tidak di Indonesia.
Negara yang bekerja keras dan berkomitmen untuk
membangun bangsa, maka akan memunculkan banyak orang pandai di dalamnya.
Beginilah kondisi China saat ini. Pendidikan tingkat awal telah mereka
gratiskan sejak lama, korupsi diberantas dan sebagainya. Pengembangan ilmu
pengetahuan menjadi prioritas, walaupun di awala mereka harus bersusah-ria,
namun saat ini mereka telah memetik buah hasil jerih payah yang telah mereka
bangun.
Indonesia harus berbenah. Indonesia bukanlah
negara di atas kertas yang memiliki angka statistic ini dan itu. Indonesia
adalah sekumpulan orang yang lahir dan hidup di dalamnya serta mereka yang
menyandang status sebagai warga negara walau berada di luar negeri. Konstribusi
sekecil apapun akan sangat bermanfaat buat negara Indonesia.
Wuhan,
P.R.China 8 November 2015 Hormat saya,
Putra Indonesia
Nugroho Suryo Bintoro